Pasar Argosari, Wonosari


Melambungnya harga minyak goreng kemasan dirasa memberatkan para pengusaha makanan. Salah satu alternatif yang bisa dilakukan adalah dengan menggantinya ke jenis minyak goreng curah.


Namun pilihan itu tak diambil Silvia (37), pedagang jajanan di Taman Kuliner Wonosari, Gunungkidul. Meski sedang mahal, pedagang molen dan onde-onde ini tetap bertahan dengan minyak goreng kemasan.


"Sedih juga harganya jadi naik, tapi saya tetap pilih yang kemasan ketimbang curah," tuturnya, Jumat (26/11/2021).


Keengganannya berganti ke minyak goreng curah bukan tanpa alasan. Kualitas makanan yang jualnya menjadi alasan, termasuk jika dilihat dari sisi kesehatan.


"Apalagi anak saya kan juga makan ini, jadi harus saya jaga," jelas Silvia.


Bertahan dengan minyak goreng kemasan menimbulkan konsekuensi tersendiri, setidaknya harus mengeluarkan biaya lebih. Harga minyak goreng yang kemasan 2 liter, tambah Silvia, saat ini sudah menyentuh Rp.35 ribu, dari sebelumnya sekitar Rp.30 ribu.


Meski sadar dengan konsekuensi ini, Silvia tetap memikirkan kualitas. Tak banyak yang bisa diperbuat selain hanya menunggu harga minyak goreng kemasan kembali turun.


"Ya tentu maunya bisa ke harga normal lagi, apalagi kondisi jualan juga belum benar-benar pulih," katanya.


Sementara itu, Kasi Distribusi, Bidang Perdagangan, Disperindag Gunungkidul, Sigit Haryanto, mengatakan, upaya menstabilkan harga minyak goreng kemasan sudah coba dilakukan.


Antara lain dengan melakukan operasi pasar di 4 titik. Kegiatan ini kami lakukan bekerja sama dengan Disperindag DIY, BULOG, dan Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) DIY beberapa waktu lalu.


"Sambil kami juga terus melakukan monitoring harga dan persediaan di pasaran," ujar Sigit. (TON)