Deretan Mantan Atlet Peraih Medali yang Hidup Sulit di Era Tua

Header Menu

Deretan Mantan Atlet Peraih Medali yang Hidup Sulit di Era Tua

18 Agustus 2021



Kemenangan Greysia Poli dan Apriyani Rahayu di Olimpiade Tokyo 2020 memang membanggakan. Begitu juga keberhasilan atlet lainnya yang mendapatkan medali di olimpiade tersebut, maupun olimpiade sebelumnya.


Di Asean Games lalu, para atlet juga mendapatkan banyak hadiah dan penghargaan dari pemerintah. Bahkan ada yang dapat uang hingga miliaran rupiah. Tapi, yang akan dibahas Pojokreview kali ini adalah deretan atlet Indonesia yang juga berhasil mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional. Namun berbanding terbalik dengan atlet yang disebutkan sebelumnya, deretan atlet ini justru hidup sulit di era tuanya.


Siapa saja mereka? Ini daftarnya yang diambil dari beberapa sumber berbeda.


1. Denny Thios (atlet angkat besi)



Jawara angkat besi dunia, juga peraih medali emas International Powerlifting Federation (IPF) World Championships. Dialah Denny Thios, atlet angkat besi terbaik Indonesia bahkan dunia di era 1990-an. Ia berhasil meraih 4 medali dari 5 kali keikutsertaannya di kejuaraan angkat besi dunia. Tidak tanggung-tanggung, tiga dari empat medali tersebut adalah medali emas, satunya lagi perunggu.


Denny Thios meninggal dunia pada tanggal 29 Mei 2018 silam dalam keadaan yang cukup memprihatinkan. Dari seorang jawara angkat besi dunia, Denny Thios justru menghabiskan masa tuanya sebagai tukang las di toko besi.


2. Soeharto (Atlet 5 cabang olahraga paralimpik)



Kemudian ada nama Soeharto yang merupakan seorang atlet disabilitas. Ia adalah atlet penyandang tunanetra yang meraih medali emas dan perak ketika mengikuti ajang Fespic Game di Australia tahun 1977. Lebih hebatnya, Soeharto tidak hanya membela Indonesia di satu cabang lomba, tapi di lima cabang sekaligus.


Soeharto mengikuti cabang lomba lari 100 meter, lompat jauh, tolak peluru, renang, dan lempar lembing. Di tahun 2018 lalu, nama Soeharto sempat menjadi viral karena ia sendirian dalam keterbatasan merawat istrinya yang terluka parah bahkan hingga berbelatung.


Di usia senja tersebut, Soeharto menghidupi keluarganya dengan bekerja sebagai tukang pijat.


3. Rachman Kili-kili (atlet tinju)



Nama Rachman Kili-kili mencuat kembali usai ditemukan meninggal bunuh diri dengan cara menggantung dirinya di kusen. Benar-benar malang, karena Rachman Kili-kili diduga depresi lantaran hidup sulit, tekanan ekonomi, diperparah lagi dengan perceraian orang tuanya ketika muda.


Rachman Kili-kili disebut-sebut sebagai salah satu petinju berbakat Indonesia. Ia meraih banyak gelar sejak masih di level amatir, kemudian menjadi juara nasional kelas bantam dan super bantam di tahun 2001 dan 2002. Kedua gelar itu membuat namanya populer di Indonesia.


4. Suharto (Atlet balap sepeda)



Tahun 1979, nama Suharto melejit lantaran berhasil meraih medali emas di SEA Games Malaysia tahun itu. Suharto adalah atlet balap sepeda terbaik di era itu yang bersama timnya berhasil merajai nomor Time Trial jarak 100 km.


Tahun 1977, Suharto kembali mengharumkan nama Indonesia dengan raihan dua medali perak di SEA Games Thailand. Dengan itu, Suharto menjadi atlet balap sepeda yang disegani sekaligus dihormati di Asia Tenggara.


Namun, di masa tuanya, Suharto bekerja sebagai penarik becak ditambah dengan penyakit hernia yang menyerangnya. Berkat muncul di televisi nasional tahun 2018, Suharto mendapatkan pekerjaan sebagai pelatih sepeda untuk anak jalanan di Pemkot Surabaya.


Tentunya, nama-nama di atas hanya sebagian kecil saja dari banyak atlet Indonesia di masa lalu yang hidup sulit di masa tua. Tentunya, semoga ke depannya, orang-orang yang berhasil mengharumkan nama Indonesia bisa hidup layak. Entah itu menjadi konsultan, pelatih atlet muda, dan sebagainya. Apapun hasil kerja keras mereka, tentunya harus dihargai dan tidak sepatutnya negara membiarkan mereka hidup menderita di masa tuanya.